Cermati Kebodohan dan Kemiskinan
Sabtu, 10 Nopember 2007 07:32:06
Untuk menjadikan bangsa ini maju dan kuat, dibutuhkan pemuda-pemudi yang tangguh. Guna mewujudkan cita-cita itu generasi muda dituntut untuk mencermati kebodohan dan kemiskinan.
Rivo Hernandus, anggota Komisi E DPRD Jatim mengingatkan, perjuangan pemuda zaman sekarang sangat berbeda dengan pemuda masa dulu. Dahulu pemuda berjuang untuk mengusir penjajah, sekarang berjuang untuk menghadapi kemiskinan dan kebodohan. Hal ini harus dicermati oleh generasi muda agar lebih proaktif dalam proses mewujudkan Indonesia kedepan.
Karena itu Rivo menyayangkan kondisi pemuda saat ini yang semangat kebangsaan dan nasionalismenya tidak sehebat pemuda dulu. Namun dia memaklumi itu karena adanya berbagai pengaruh seperti globalisasi.
Melihat gejala tidak baik pada generasi muda itulah maka Dewan sesuai dengan posisi dan kewenangannya merasa tertantang membangkitkan kembali semangat nasionalisme dan kebangsaan. “Generasi muda perlu diarahkan melaui etos kerja yang tinggi dan semangat nasionalisme untuk membangun Jatim lebih baik,“ katanya.
Bentuk lainnya, pada setiap pembahasan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Dewan selalu mengutamakan program-program pemberdayaan kepemudaan seperti kewiraswastaan dan pemberdayaan kelompok UKM. Juga alokasi anggaran bagi organisasi pemuda walaupun tidak secara rutin. Diharapkan ini dapat membangkitkan kembali semangat para pemuda dalam memerangi kemiskinan.
Dia berpendapat, nilai Sumpah Pemuda yang bisa ditarik dalam masa sekarang yakni nilai semangat nasionalisme dan semangat kebangsaan. Bagaimana cara merefleksikan atau mengimplementasikan semangat yang digagas para pendahulu.
Menurut Rivo, di tengah arus globalisasi seperti saat ini Sumpah Pemuda masih sangat relevan. Walaupun sering muncul beberapa indikasi separatisme di Ambon dan Papua, namun para pemuda di propinsi lain tidak akan terpengaruh oleh situasi tersebut.
Hal lain yang patut dicermati adalah Sumpah Pemuda harus dimaknai secara dalam dan dilakukan secara baik dan benar sehingga permasalahan bisa terkikis dengan sendirinya. “Munculnya bentuk terorisme atau separatisme tidak sesuai dengan semangat sumpah pemuda,“ katanya.
Bagaimana pemuda di kalangan mahasiswa saat ini? Menurut dia, gerakan pemuda mahasiswa sekarang masih kurang mempunyai fokus secara jelas, artinya mereka hanya dapat menyuarakan tapi tidak mempunyai konsep yang jelas.
Untuk itu Dewan berupaya memberikan proses pembelajaran bagaimana cara berdemokrasi dengan baik dan bagaimana cara mengimplementasikan atau mengaktualisasikan nilai-nilai kepemudaan. Ini perlu ditunjukkan kepada mereka.
Diakuinya, upaya Dewan dalam memberikan pembelajaran berdemokrasi bagi pemuda belum mencakup keseluruhan, karena adanya perubahan sistem anggaran. Namun Dewan tetap berupaya memacu organisasi pemuda di desa untuk diberikan pembelajaran tentang bagaimana menjadi seorang pemuda yang dibutuhkan sumbangsihnya oleh negara. Kegiatan ini dilakukan dewan pada masa reses di masing-masing Daerah Pilihan (Dapil) yakni antara dapil 1 sampai 10 di Jatim.
Menurut Rivo, generasi muda harus mempunyai ilmu dan kompetensi. Dengan kapasitas yang mereka miliki secara tidak langsung sudah dapat menyumbangkan kepada bangsa dan negara sehingga dapat meneruskan cita-cita bangsa mengisi pembangunan dan segera keluar dari krisis.
Pancasila
Masih menurut Rivo, kebutuhan pemuda yang paling mendesak selama ini adalah masalah pendidikan, karena banyak pemuda-pemudi dari tingkat pendidikan masih belum memenuhi syarat. Pendidikan perlu mendapat tanggapan serius dewan.
Saat ini muncul berbagai program seperti bantuan khusus murid siswa SMA, beasiswa atau keringanan kepada mahasiswa berprestasi, mendorong Pemda memberikan semacam uang pembinaan kepada generasi muda yang meraih prestasi di tingkat internasional.
Kegiatan untuk memberikan uang pembinaan bagi yang berprestasi diwujudkan pada puncak hari jadi Jatim ke-62 pada 12 Oktober yang diperingati 23 Oktober di halaman gedung negara Grahadi Surabaya.
Komposisi anggaran untuk kepemudaan menurut Rivo masih kurang. Dia mencontohkan, APBD Jatim yang berjumlah sekitar Rp 5 triliun jika hanya disedot kepemudaan saja, kebutuhan lainnya tidak cukup. Jadi bagaimana cara mengalokasikan anggaran itu secara merata dan adil.
Dia menyesalkan dihapusnya mata kuliah Pancasila karena merupakan dasar untuk membina integritas dan semangat kebangsaan serta nasionalisme pemuda. Bagaimana harus menjawab tantangan ke depan kalau mereka tidak menjiwai karakter, dan budaya bangsanya. Apabila tidak segera tertangani, maka pemuda sekarang akan lebih sulit menyamai para pendahulu khususnya jiwa nasionalisme.
DPRD Jatim mengupayakan mata kuliah Pancasila tetap diadakan. Dewan telah mengadakan seminar dengan beberapa perguruan tinggi untuk membawakan suara ke Departemen Pendidikan Nasional agar kebijakan tidak dicantumkannya Pancasila sebagai mata kuliah wajib ditinjau.
Diharapkan ke depan generasi muda bisa menyumbangkan pemikirannya secara baik dan tidak hanya sebagai sosok parlemen jalanan. Berikanlah sumbangsih pemikiran berupa konsep. Bangsa ini butuh pemuda brilian dalam mengaktualisasikan semua pemikiran seperti diharapkan dalam semangat Sumpah Pemuda 1928,“ katanya. *(admin)
Teks Foto: Kegiatan para siswa demi masa depan.

0 komentar:
Posting Komentar