RSU Dr Soetomo - RS Dr Soebandi Tolak Pasien Warga Miskin

Tanggal : 02 Jul 2008
Sumber : Koran Tempo
Prakarsa Rakyat,
Gubernur Imam meminta kehadiran warga miskin tak ditolak.
SURABAYA -- Rini Kusarung terdiam di depan loket informasi kuota jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas) Rumah Sakit Umum Daerah Dr Soetomo setelah petugas mengatakan namanya tidak ada dalam database. "Saya biasanya pakai kartu Askeskin bisa berobat kok," ujarnya kepada petugas itu kemarin. Warga Dharmahusada ini sebenarnya ingin mengobati luka bengkak di tangan sebelah kirinya karena terjatuh. Akhirnya, dengan mata memerah dan suara bergetar, ia memilih pulang.
Rini hanyalah salah satu pasien Jamkesmas--pengganti Askeskin--yang ditolak rumah sakit ini. Ada tujuh orang lagi yang bernasib seperti Rini setelah Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberlakukan program tersebut mulai kemarin.
Endang, warga Banyuwangi yang mengantarkan cucunya guna menjalani perawatan di Instalasi Rawat Darurat RSUD Dr Soetomo, mengaku tidak tahu kartu miskin yang dimilikinya tidak berlaku. "Baru tahu setelah baca pengumuman di loket," ujarnya.
Pejabat hubungan masyarakat rumah sakit tersebut, Urip Murtedjo, SpB, mengatakan sejak 1 Juli hanya masyarakat miskin yang masuk dalam kuota Jamkesmas yang bisa dilayani gratis.
Perlakuan khusus hanya diberikan kepada penderita darurat. "Tidak ada penolakan bagi penderita emergency," katanya.
Penolakan serupa juga terjadi di RSUD Dr Soebandi, Jember. Setidaknya ada tiga orang warga miskin ditolak berobat di rumah sakit ini karena namanya tak masuk dalam database warga miskin penerima dana Jamkesmas. Ketiga pasien itu adalah Ernawati, 20 tahun, Supistur (20), dan Mohammad Arga Hita (13).
Ernawati dan Supistur--keduanya merupakan saudara sepupu--harus menjalani perawatan karena mengalami kecelakaan lalu lintas. Sedangkan Hita menjalani perawatan karena benjolan besar di lehernya.
"Kami membawa surat keterangan tidak mampu dari kepala desa dan camat," kata Hartono, salah seorang keluarga Ernawati dan Supistur. Padahal keduanya harus dioperasi dengan biaya Rp 10 juta.
Namun, toh, petugas rumah sakit menolak memberikan perawatan. Rumah sakit malah menawarkan "tarif damai" sebesar Rp 7 juta kepada keluarga Hartono.
Hal serupa juga diungkapkan Junaidi, anggota keluarga Hita. "Katanya dokumen kami tak masuk di rumah sakit," katanya.
Kepala Bidang Pelayanan Medis RSUD Dr Soebandi dr Arief Setyargo mengatakan pihaknya tidak menolak para pasien itu. "Mereka memang tak ada dalam data kami," ujarnya.
Gubernur Jawa Timur Imam Utomo meminta semua rumah sakit tidak menolak kehadiran warga miskin, baik yang tertanggung dalam Jamkesmas maupun tidak. "Kalau mungkin dana dari pusat belum cair, kami mempunyai dana talangan yang bisa dipinjam rumah sakit," katanya.
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Timur meminta semua rumah sakit tidak mempersulit pelayanan warga tidak mampu. "Asalkan mereka bisa menunjukkan surat miskin, tidak ada alasan untuk menolaknya," kata anggota Komisi Kesejahteraan, Rivo Henardus. YEKTHI HM | MAHBUB DJ | ROHMAN T
teks foto:Apa tidak kasihan kalau melihat seperti ini.?

0 komentar:
Posting Komentar