Jumat, 16 Januari 2009

"Saya Kecewa Pelayanan RSU Dr Soetomo"


Sabtu, 10 Januari 2009 ]
Panggil pimpinan SU dr Soetomo DPRD Jatim menyoroti ungkapan pasien jamkesmas yang merasa didiskriminasi di RSU dr Soetomo. Wakil rakyat itu gerah. Mereka menganggap rumah sakit milik Pemprov Jatim tersebut melanggar komitmen. Pada 12 Januari, dewan akan memanggil pimpinan rumah sakit itu.
Anggota Komisi E DPRD Jatim Rivo Henardus menyatakan, praktik yang dianggap diskriminatif pada pasien tidak mampu itu sudah menjadi barang lawas. Dia mengaku kerap mendapat pengaduan dari masyarakat soal pelayanan di rumah sakit tersebut. ''Saya kecewa terhadap RSU dr Soetomo,'' ungkapnya.
Anggota dewan dari Partai Demokrat itu menambahkan, biasanya kalau tidak pelayanan pengobatan yang antre, untuk masuk rumah sakit dan berobat saja susah. Di bagian administrasi, seorang pasien dihadapkan pada persyaratan surat yang menumpuk.
Kendati surat-surat sudah lengkap, pasien pun tak langsung dilayani. Ada saja alasan yang diberikan petugas. Untuk pasien seperti itu, Rivo biasanya memberi mereka surat rekomendasi. ''Kalau sudah ada surat rekom, biasanya lancar. Beberapa hari gitu sudah langsung ditangani,'' katanya.
Dia menuturkan, pada awal pemberlakuan jamkesmas dan status rumah sakit menjadi badan layanan umum (BLU), anggota dewan sudah mewanti-wanti agar tidak ada diskriminasi terhadap pasien miskin. Bahkan, semua biaya tambahan harus dihapus.
Dengan adanya pemberitaan di media soal perasaan didiskriminasi itu, Rivo menilai RSU dr Soetomo sudah menyalahi komitmen. Apalagi, pembedaan pasien jamkesmas tersebut diakui oleh salah seorang pimpinan RSU dr Soetomo. ''Mereka bisa saja berkelit. Tapi, bukti-buktinya kan sudah ada. Faktanya memang seperti itu,'' tegasnya.
Menanggapi hal itu, Direktur Utama RSU dr Soetomo dr Slamet Riyadi Yuwono menyatakan, RSU dr Soetomo sudah sangat maksimal dalam layanan kesehatan. Namun, sebagai RS terbesar sewilayah Indonesia Timur, dia mengakui RSU dr Soetomo memang mempunyai segudang masalah.
Slamet menuturkan, pekerjaan rumah yang masih harus diselesaikan institusinya adalah memecahkan soal sering overload-nya RS. ''Pada awal pembangunannya, kami mengestimasi kapasitasnya 1.500 pasien. Tapi, ternyata saat ini, pasien yang berobat bisa mencapai 3.000 orang,'' ujarnya.
Hal lain yang menjadi persoalan serius RS tersebut adalah banyaknya peralatan yang sudah sangat tua. Hal itu disebabkan oleh tidak mencukupinya anggaran yang diberikan pemda.(aga/nur/dos)

Teks: Gedung Graha Amerta tempat orang berduet dirawat, yang miskin di sal saja ya!

0 komentar: